Hasil Kebun · Dusun Segelan

Kopi Balesari, Potensi Muda dari Lereng Gunung Kawi

Tahun 2019 seorang warga melihat lereng Kawi dan berpikir tanah ini cocok ditanami kopi. Ia bukan keturunan petani, tapi tetap memulai. Kini makin banyak warga Dusun Segelan ikut membuka lahan dan menanam.

Tanya Ketersediaan
2019
dirintis
tahun kopi mulai ditanam
1
hektar
lahan yang sudah berproduksi
10
petak
lahan lain masih masa tanam
Buah kopi merah di kebun warga Dusun Segelan, Desa Balesari, lereng Gunung Kawi

Awal Mulanya

Berawal dari Satu Orang

Pak Wakit bukan lahir dari keluarga petani. Ia mulai menanam kopi pada 2019 setelah melihat lereng Gunung Kawi punya tanah dan ketinggian yang cocok untuk arabika maupun robusta.

Ia menjadi pelopor di Dusun Segelan. Setelah hasilnya terlihat cukup menjanjikan, satu per satu warga ikut mencoba. Kini bahkan para pemuda desa mulai membuka lahan dan menanam kopi mereka sendiri.

Keterampilan ini tidak diwarisi dari generasi sebelumnya, tapi mulai dirintis untuk diwariskan ke generasi berikutnya.

Kebun kopi warga di lereng Gunung Kawi, Dusun Segelan, Desa Balesari
  • Bukan warisan

    Dirintis dari nol, bukan diturunkan dari orang tua.

  • Modal tempat

    Ketinggian lereng Kawi cocok untuk arabika dan robusta.

  • Menular

    Dari satu petani, menyebar ke banyak keluarga dan pemuda desa.

Varietas

Kopi yang Ditanam di Sini

Bukan satu jenis saja. Tiap varietas punya watak, umur panen, dan nasib pasarnya sendiri.

  • Arabika

    Harga paling bagus saat ini

    Tumbuh baik di ketinggian lereng Kawi. Mulai bisa dipanen sekitar tiga tahun setelah tanam.

  • Robusta

    Sabar menunggu

    Lebih tahan, tapi butuh waktu lebih lama. Panen perdananya sekitar enam tahun.

  • Kayu Satu

    Paling laku

    Jadi pilihan utama sekarang karena petani makin bisa memilih bibit yang bagus.

  • Ateng

    Mulai ditinggalkan

    Termasuk arabika, tapi umur produktifnya pendek, sekitar lima kali panen saja, jadi perlahan ditinggalkan.

Soal Waktu

Menanam kopi bukan pekerjaan yang hasilnya kelihatan musim itu juga. Bibit yang ditanam hari ini baru berbuah bertahun-tahun kemudian.

  • Arabika3 tahun sampai panen perdana
  • Robusta6 tahun sampai panen perdana

Itu pun kalau cuacanya bersahabat.

Pascapanen

Dua Cara Mengolah

Setelah dipanen, buah kopi bisa diolah dengan dua cara yang menghasilkan karakter berbeda.

PulpwashPetik merah

Hanya buah yang sudah merah yang diambil, lalu kulitnya dikupas sebelum dikeringkan. Prosesnya bisa memakan waktu sekitar satu bulan, sangat bergantung cuaca.

  • Buah merah dikupas kulitnya
  • Sekitar satu bulan
  • Butuh cuaca mendukung

NaturalDikeringkan utuh

Buah dikeringkan tanpa dikupas, disebut juga DPP karena bentuknya bulat utuh. Bisa dari buah hijau maupun merah.

  • Buah dikeringkan utuh
  • Bentuknya bulat (DPP)
  • Dari buah hijau dan merah

Perjalanannya

Dari Hutan Jadi Biji Kopi

Perjalanannya panjang dan dimulai jauh sebelum ada pohon kopi berdiri di sana.

  1. Membuka lahan

    Semuanya bermula dari membabat semak dan membuka lahan di lereng agar bisa ditanami.

    Lahan kebun kopi yang dibuka di lereng Gunung Kawi
  2. Menyiapkan bibit

    Bibit disemai dan dipilih. Sekarang petani sudah lebih paham memilih bibit yang bagus.

  3. Menanam saat musim tanam

    Bibit dipindahkan ke lahan ketika musim tanam tiba, tidak bisa sembarang waktu.

  4. Merawat dan memupuk

    Perawatan berjalan bertahun-tahun. Petani di sini memilih pupuk kandang karena efeknya bertahan lama dan biayanya lebih terjangkau.

  5. Memanen

    Arabika mulai berbuah sekitar tiga tahun, robusta sekitar enam tahun. Untuk pulpwash, hanya buah merah yang dipetik.

    Buah kopi merah siap petik di kebun Dusun Segelan
  6. Mengeringkan dan mengolah

    Buah dijemur sampai kering, lalu diolah menjadi biji. Lamanya sangat bergantung pada cuaca.

    Penjemuran biji kopi di halaman rumah warga Desa Balesari

Apa Adanya

Yang Tidak Selalu Mulus

Bertani kopi bukan cerita yang selalu manis. Ada hal-hal yang sampai sekarang masih jadi taruhan tiap musim.

  • Cuaca yang menentukan

    Musim hujan membawa risiko hasil rusak saat pengeringan. Petani kerap harus menunggu kemarau supaya mutunya bagus.

  • Menunggu kemarau

    Proses pengeringan bisa molor jauh dari perkiraan kalau matahari tidak muncul-muncul.

  • Biaya perawatan

    Pupuk kandang dipilih karena tahan lama dan lebih terjangkau, sementara pupuk kimia terkendala biaya.

Biji kopi hasil panen petani Desa Balesari

Orang di Baliknya

Harapan dari Kebun

Hasil panen saat ini dijual dalam bentuk biji, dikumpulkan bersama petani lain, lalu diteruskan ke pengepul.

Harapan terbesarnya sederhana tapi besar dampaknya: ada investor yang masuk dan membangun pabrik pengolahan di desa. Menjual ke pabrik bisa memberi harga yang jauh lebih baik dibanding melempar ke pasar.

Di sini tanahnya cocok. Tinggal telaten nunggu, kopi pasti kasih hasil.
Pak Wakit, petani kopi Dusun Segelan

Untuk Pembeli

Tertarik dengan Kopi Balesari?

Kopi dijual dalam bentuk biji. Ketersediaan mengikuti musim panen, jadi silakan tanyakan dulu sebelum memesan.

Bentuk jual
Biji kopi
Varietas
Arabika, Robusta, Kayu Satu
Cara olah
Pulpwash & Natural
Harga
Tanya via WhatsApp
Ketersediaan
Mengikuti musim panen
Lokasi kebun
Lereng timur Gunung Kawi

Harga kopi bergerak mengikuti jenis, mutu, dan kondisi pasar, jadi kami tidak mencantumkannya di sini. Silakan hubungi kami untuk penawaran terbaru.

Mau pesan kopinya?

Tanyakan jenis, mutu, dan ketersediaan panen terbaru langsung ke kami.

Tanya Harga & Ketersediaan

Terbuka untuk Kemitraan

Petani di sini berharap ada investor atau mitra yang mau mengembangkan pengolahan kopi bersama warga desa.

Ajak Kerja Sama

Dokumentasi

Sekilas dari Kebun

Lihat Selengkapnya
  • Buah kopi merah siap petik di kebun Dusun Segelan
  • Penjemuran biji kopi di halaman rumah warga
  • Penyangraian kopi secara tradisional
  • Biji kopi hasil panen petani Desa Balesari

Jelajahi Potensi Lainnya